Friday, December 19, 2014

Itu dulu, kalau sekarang semua orang suka jalan-jalan.



Zaman saya menemukan blog mengenai traveling yaitu tahun 2009. Pada saat itu saya menemukan hifatlobrain, blog yang berisi tentang pengalaman berjalan-jalan yang sangat menarik. Misi mereka adalah untuk menyebarkan virus kepaa masyarakat untuk gemar berjalan-jalan. Pada tahun itu saya melihat bahwa hifatlobrain bagaikan harta karun karena pada saat itu jalan-jalan belum menemukan  rimbanya seperti saat ini.
Dahulu, berjalan-jalan menurut saya  adalah sebuah kesempatan yang sangat mewah, tidak semua orang bisa menikmati jalan-jalan dengan kacamata sebagai orang yang memilih unuk menikmati hidupnya dengan cara itu. Belum banyak superhero seperti dina dua ransel, ayos purwoadji, trinity, bondan winarno dan pahlawan-pahlawan yang suka jalan-jalan lainya.
Saya bukan termasuk orang yang tanggap terhadap perkembangan gaya hidup termasuk didalamnya perkembangan gadget. Saya telat sekali menggunakan android dan smartphone, tapi saya tahu bahwa ada satu media sosial yang bisa menjembatani kebiasaan jalan-jalan dan makan yaitu instagram. Salah satu yang saya selsalkan mengapa saya terlambat menggunakan android, tapi ya tidak apalah.
Pertama kali saya membuat ig dan membuka profile teman-teman saya, saya takjub. Betapa orang-orang yang ada disekeliling saya sangat jago mendeskripsikan tentang momen yang dirasakan, betapa lihai mereka mengambil gambar dari momen-momen yang mereka jalani. Hari-hari berjalan, kecanduan saya terhadap ig semakin haeri semakin bertambah, setiap hari saya mempunyai motivasi untuk berjalan ke suatu tempat, supaya saya bisa membagikan momen saya dan mengambil gambar yang cantik.Saat ini banyak kritikus yang prihatin terhadap beberapa tantanan sosial yang berganti, ya namanya juga zaman pasti ada perubahan. Yaa namanya kritikus kalau tidak mengkritik lalau kerjanya apa. Namun memang saat ini masyarakat yang disekitar saya sebelum makan bukan brdoa tetapi photo-photo dulu. Tiak salah.. toh manusia yang berada jauh diseberang sana bisa ikut menikmati walaupun hanya dengan gambar. Memang teknologi membuat semua batas dan perbedaan waktu menjadi kabur dan bias.
Sekarang semua orang menyebut rutinitas makan diluar dengan wisata kuliner, menyebut kegiatan mengunjungi suatu tempat dengan istilah, travelling, touring, backpakeran dan istilah-istilah masa kini lainya. Sepertinya manusia saat ini sedang mereflesikan kembali bahwa disekitar sungguh ada banyak keindahan yang perlu disyukuri. Sungguh menyenangkan, sepertinya hifatlobrain berhasil menyebar racun untuk mengajak orang berjalan-jalan. Setiap saya buka ig pasti ada saja foto berlatarkan pantai, foto dengan latar pegunungan, foto dengan makanan-makanan yang aneh-aneh.Suatu saat saya melihat ig teman saya. Sepertinya dia memilih untuk menghabiskan sebagian hidupnya untuk berjalan-jalan, banyak saya lihat foto-foto miliknya didominasi dengan laut, pantai, berbagai gunung dan beberapa kesenangan lainya dan hal tersebut tidak hanya terjadi pada satu orang saja, ada banayak. Saya bersyukur, saat ini banyak orang yang sudah melek jalan-jalan semoga hal itu bisa memberantas kekolotan yang selama ini juga tumbuh pesat berkembang. Sambil bersyukur tetapi saya bertanya, lalu apa? Setelah jalan-jalan berdecak kagum dengan keindahan alam, lalu apa? Saya melihat semuanya jadi sama, jadi seragam.
Sesungguhnya sungguh tidak adil jika saya mengenaralisir bahwa yang sama itu salah, yang seragam itu ngga kreatif dan apalah itu. Keraguan saya diajawab oleh teman saya sendiri lagi, ketika saya melihat masih ada orang yang menyajikan gambar selain restoran, laut dan gunung. Ada teman saya yang bisa melihat keindahan dari senyum seorang anak kecil yang tidak ia kenal. Ada keindahan dibalik keriuhan kota jakarta, ada kesejukan dibalik kesederhanaan petani dan sawah hijaunya. Saya bersyukur ada seseorang yang membuktikan bahwa dugaan saya salah. Dugaan kalau saya dan orang-orang yang ada disekitar saya latah. Latah jalan-jalan, melihat kegiatan tersebut keren dan menyenangkan lalu memproduksi kegiatan itu dengan bermodalkan “terlihat keren”. Masih ada teman saya yang bisa melihat keindahan dari kesederhanaan, kesedehanaan yang luput dari budaya yang menyeragam.
        Semoga saya dan semakin banyak lagi orang diluar sana..

Memproduksi secara utuh, jalan-jalan sebagai pembebasan diri, membuka cakrawala dan belajar bahwa diri kita ini bukan siapa-siapa, bahwa kita belum tahu apa. Tetapi jangan nilai keren dan simbol-simbol yan terlihatnya saja yang diproduksi. Saya juga mau jalan-jalan. Semoga makna-makna yang ada diluar sana ikut dikunjungi, ikut dicari. Agar seseorang memiliki alasan dalam kepergianya dan mendapatkan sesuatu ketika dia pulang, benar-benar sesuatu, esuatu yang mengajak untuk mencari makna lainya.