Friday, October 25, 2013

It's still blind?

I'm just wondering love could be more humanist.
love is blind? is it?
I don't think so, they're always looking.
Is that people ugly? is that person fat?
Is that young man immoral?
The other sad thing is, some people say "true love is a reflection of what we've done in life"
So, is love can be something good for bad people because they will get for the same?
Love is not a neutral thing who given from god to every people.
I hope you lucky to be general people.

Saturday, June 22, 2013

siapa kamu?

Ini penting menurut saya, makanya dimasukin di blog. Adalah bahwa dia siapa kamu akan mengapa. kontruksi manusia atau sosial itu terlalu jahat untuk diikuti, sudah banyak korbanya. Baris sebelumnya terlalu provokatif. saya coba bahasa yang lebih halus. kenapa halus? karena budaya kita halus? lalu setelah halus kenapa? merasa lebih berbudaya?. ya sudah lah. saya terlalu terbiasa mengikuti ekspetasi orang-orang disekitar saya. Bapak saya yang didalam darahnya ada setengah darah diktator. Kakak-kakak saya yang selalu saya jiplak pada akhirnya sekarang saya malah jadi bergantung dan jeleknya kakak saya juga merasa punya andil akan saya akhirnya apa-apa ya kadang salah. tidak apa-apa toh manusia harus berkompromi kan?. saya tidak fokus, yang ingin saya jelaskan disini adalah saya ingin menjauhi ekspetasi siapapun. Ekspetasi sayalah yang paling penting. Bukan ekspetasi orang-orang disekitar saya, bukan ekspektasi orang-orang kebanyakan.

Dalam doa saya kali ini saya ingin menjadi orang yang biasa saja. jangan diremehkan, biasa saja menurut saya adalah titik sulit dalam hidup  manusia. untuk mencapai kesitu harus merasakan dua titik biner yang terbalik dan berada ditengah-tengahnya.

"Tapi bukanlah sudah menjadi tabiat, Mereka yang tak siap kalah akan merasa terhina. Dan, yang lebih parah dari itu, Mereka yan tak siap menang akan merasa pantas bersikap pongah, Atau kalau perlu merayakan kemenangan dengan merendahkan yang kalah." Ikal Hidayat Noor.

Tuesday, June 18, 2013

Hirarki

Saya jadi ikut merinding bagaimana Ayu utami menjelaskan konsep hirarki dalam frame manusia pada salah satu novelnya. Tidak semua manusia dapat melihat sesamanya sebagai manusia, termasuk saya disini. 
Terlalu banyak peraturan yang dibuat oleh manusia baik secara tertulis maupun tidak yang menurut saya semakin membuat hidup sesak. Manusia memang perlu aturan, tidak bisa dibayangkan bagaimana hidup tanpa kesepakatan, kusut. Namun bagaimana dengan peraturan-peraturan yang tidak kasat mata? tidak tertulis? tidak tau sebab-musababnya dan dianggap harus dipenuhi oleh seluruh manusia tanpa terkecuali. Padahal semua orang tau tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya bisa dicari tidak bisa dimiliki. 

Peraturan-peraturan tidak kasat mata tersebut dapat kita sebut sebagai kontruksi manusia. Manusia dalam hidupnya memiliki banyak kepentingan. terkadang banyak usaha yang dilakukan untuk kepentingan tersebut, kepentinganya bisa pribadi bisa kepentingan bersama-sama. Menyedihkan jikalau banyak dari diri-diri yang seharusnya dapat merdeka harus dikepung dengan peraturan-peraturan kasat mata tersebut, terkadang alasanya sendiri masih janggal.

Ada si ganteng, baik, pintar, bermoral, berkuasa, gaul.
Ada si cantik, baik, tidak pintar, berkuasa dan kurang bergaul.
Ada si jelek, tidak baik, tidak pintar, tidak berkuasa, tidak bergaul dan tidak kaya.
Pertanyaanya apakah jenis yang terakhir masih bisa dikatakan sebagai manusia?

Bakat alami manusia adalah menilai dalam segala hal, menyisihkan manusia kedalam kelompok-kelompok tertentu. Kelompok superior, kelompok subordinat  dan kelompok biner. Kelompok ada yang diatas, ada yang dibawah dan ada yang ditengah-tengah. Ada kelompok baik, kelompok kurang baik, kelompok sangat baik dan kelompok tidak baik. Kesempurnaan pada akhirnya menjadi tujuan.

Saya melihat hirarki terjadi pada apa saja, manusia memang terbagi kedalam kelas-kelas tertentu dan hal tersebut bisa dijelaskan dengan banyak teori. Jangan heran jika pada akhirnya fenomena kw dan ori sangat membahana. Semua-muanya jadi mirip seperti  sepatu boots, hijaber, jaket jins, dan masih banyak lagi. 
hirarki, fenomena bagaimana manusia hidup. Tingkatan-tingkatan tersebut memproduksi makna dan menjadikan sebuah tanda. Tanda tersebut terus direproduksi oleh banyak manusia, sebagian tahu maknanya sebagian tidak.

"kenapa kita tertarik pada seseorang? karena ia tampan? karena tubuhnya bagus? karena ia pintar? karena ia kaya? karena ia berkuasa? karena ia terkenal? karena prestasinya? karena ia memberi keamanan? karena ia memberi kenyamanan? karena hitung-hitungan semua unsur itu? betapa menyedihkan. Sebab bagaimana dengan yang miskin, buruk rupa, kerempeng, bodoh, lemah dan bukan siapa-siapa?  tidak pantaskah mereka dicintai? tapi aku juga ngak bisa membayangkan harus pacaran dengan seseorang yang jelek, miskin, tolol, penyakitan dan belum tentu baik hati."   Ayu Utami, Pengakuan Eks Parasit Lajang.

Tuesday, April 16, 2013

Saya pernah Hidup Enam Tahun Di Pondok Pesantren

Sampai saat ini saya masih merasa ada yang salah dari pola pengasuhan Pesantren yang pernah saya rasakan. Alasan awal orang tua saya memasukan saya di sekolah tersebut adalah proteksi dari kenakalan remaja masa kini, metode hijrah ke kota lain dan tinggal di pondok (tempat yang memiliki akses terbatas untuk dunia luar) dipilih oleh orang tua saya. Kedua kakak saya juga merasakan hal yang sama, dan ketika mereka keluar orang tua saya tidak melihat ada masalah akhirnya saya mengikuti jejak mereka juga. 

Saat ini saya sudah lulus, melihat kembali bagaimana diri saya hidup tumbuh disanan membuat saya geli, saya merasa dibodohi dengan doktrin-doktrin yang memaksa individu melakukan sesuatu dengan imbalan dosa.  Padahal saya sendiri masih bingung dengan apa itu dosa, apa itu neraka. Singkat cerita kekecewaan saya cukup besar karena saya tidak diajarkan secara langsung bagaimana mencintai sesama manusia, bagaimana cara mencintai tuhan saya, apa itu keindahan dan masih banyak lagi. saya hanya mengingat bagaimana saya sering menjadi orang yang salah, dan definisi anak yang baik hanya anak yang mentaati peraturan. Terjadi satu penyimpangan maka peraturan baru muncul, saya tidak merasakan ada proses ada usaha dari pengasuh memahami motif yang menjadi alasan seseorang melakukanya. ya pola pengasuhan disana sayangnya masih bersifat koersif. Baru saja saya melihat profil pondok saya kembali, semakin maju, semakin banyak perubahan, besar harapan saya pola pikir struktur yang ada disana juga ikut berubah. Waktu yang dihabiskan bertahun-tahun sangat tepat untuk menjadi media sosialisasi, bertukar ilmu pengetahuan, bertukar cara pandang.

Masalah kekecewaan ini pernah saya utarakan kepada salah satu guru, beliau menyadari memang ada beberapa hal yang harus diperbaiki namun beliau juga mengatakan bahwa pondok tersebut adalah salah satu tempat dimana guru saya merasa diperlakukan seperti keluarga, ya saya setuju!
Apapun itu, bagaimanapun ocehan saya diatas, saya tetap cinta pondok saya ini. Bagaimana tidak? saya sudah hidup disana selama enam tahun. Setiap sudut yang ada di kompleks pesantren masih saya ingat, bahkan bila membayangkan bagaimana suasana keseharian saya disana bersama teman-teman tidak jarang saya menitikan air mata. Assalaam masih menjadi salah satu rumah saya, Tempat yang selalu saya inginkan untuk pulang. 
Assalaam tempat yang ambigu bagi saya, disatu sisi saya membenci disatu sisi saya mencintai.




Friday, January 4, 2013

Biaya untuk Kesenangan



Bukan manusia namanya jika tidak pernah menyesal. Baru saja saya merasa kesal dengan diri sendiri lantaran baru saja merasakan makanan enak. saya tau restoran itu meyediakan makanan berkualitas namun diri saya terlalu pelit untuk meyisihkan uang demi kesenangan. Setelah sekian lama menunda cita-cita itu akhirnya keinginan tersebut tercapai.

Baru saja menyambangi sebuah restoran ala barat yang menurut saya cukup maksimal dalam mengolah sebuah daging. Biasanya saya hanya dicekoki visualisasi dari kelezatan-kelezatan yang ada diluar sana tetapi dalam praktek saya nol besar. Melihat makanan yang ada dihadapan saya menyerupai dengan apa yang biasanya saya lihat ditelivisi rasanya sangat menajubkan. Pada awalnya rasa tidak rela untuk mengeluarkan uang sebanyak itu mucul dengan sangat gagah namun sewaktu apa yang diinginkan selama sekian lama hadir didepan mata semua kekhawatiran luntur dan rasa senang mengambil alih suasana hati. 

Teringat perkataan socrates seorang filusuf, pernah mengatakan “ I Know Nothing”. Seharusnya sebaris kata barusan bisa menjadi alasan bagi siapa saja untuk mencari agar menemukan makna, arti atau pengalaman berikutnya. Kesenangan itu memang kadang Berbiaya, namun apalah arti biaya bila membayangkan kebahagian?. Ini salah satu kebiasaan buruk saya yaitu menunda-nunda kesenangan, Terbuai pada kesenangan-kesenangan semu jauh disana pada akhirnya sering saya tidak mendapatkan apa-apa. 

Saya iri melihat hidupnya Anthony Bourdain, hidupnya hanya mencari-cari makanan yang enak di seluruh dunia, Sudah perut kenyang, Hati senang, pengalaman dan harta bergelimang, lalu apa lagi?

Thursday, October 11, 2012

Selamat Datang

Selamat malam hari ini saya sangat senang karena besok hari jumat waktunya libur akhir pekan. selain akhir pekan rencananya besok jumat saya mau beli oven. ah.. akhirnya setelah menimbang berapa lama, menunggu subsidi dari mana-mana akhirnya..
kamar sudah saya bersihkan, perabotan sudah saya atur sedemikian rupa supaya muat, loyang dan berbagai penunjang lainya sudah saya beli dihari yang lalu. Saya sangat bersemangat, saya berharapa besok bisa menemui kegetiran yang seperti ini lagi. Salam.

Saturday, October 6, 2012

Selamat Jalan Bude



Saya sedang rindu dengan Bude saya. Waktu kecil saya sering menghabiskan akhir pekan dirumahnya. Sepupu-sepupu saya sangat menyenangkan mengajak bermain kesana kemari namun tak jarang juga beberapa kisah horor menjadi bumbu dalam kunjungan kami sekeluarga. Pada akhirnya sampai saat ini jika ingin kerumah beliau saya harus menutup mata karena melewati beberapa kuburan-kuburan china yang besar-besar. Trauma kisah-kisah menyeramkan memang membekas di komplek itu dan terkadang masih terbawa sampai sekarang.

Pada suatu hari saya mendengar bude saya bercerita bahwa dirinya harus berangkat pagi-pagi buta untuk menuju rumah sakit yang didalamnya Terdapat kantin miliknya. Setelah mendengar cerita tersebut lantas saya bertanya, “bude nggak takut ngelewatin kuburan china?” tanya saya. Bude  menjawab “enggak lah.. nanti kan kalo meninggal juga kita sendiri, nggak usah takut”. 

Kata-kata tersebut masih melekat di otak saya sampai sekarang.
Baru saja saya mendengar bude sudah meninggal, selamat jalan bude.. semoga diberi kemudahan dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Bude orang yang sangat baik.

Tuesday, September 18, 2012

Mimpi Dan Teman-Temanya


Selalu ada jarak antara mimpi dan realitas, entah mengapa kedua hal tersebut jarang bisa berdamai untuk mewujudkan kebahagian seseorang. Seorang komedian, Louies CK mempunyai perumpaan yang menarik mengenai mimpi dan realita, “kalian ingin tahu bagaimana hidup anda akan terlihat indah? Caranya adalah bermimpilah untuk mempunyai hidup yang jelek, payah dan menjijikan”. Komedian tersebut seakan menggambarkan cara sederhana untuk mendamaikan antara mimpi dan realitas. Ingin mempunyai mimpi yang indah maka abaikan realitas sebaliknya jika ingin mempunyai realitas yang yang indah maka jangan coba-coba bermimpi yang indah.
Mimpi mengandung imajinasi didalamnya. Imajinasi yang meluap-luap terkadang tidak melulu menguntungkan. Saya ingat perkataan seorang pengelana yang mana ia tidak menakutkan suatu apapun kecuali imajinasi. Ia rela menyendiri dalam keadaan semengerikan apapun tapi ia sangat takut ketika imajinasinya sendiri yang mulai merongrong dirinya. Mungkin secara sederhana saya artikan ini seperti pikiran-pikaran yang tidak perlu dipirkan oleh seseorang namun dipikirkan, semacam pikiran tidak penting, sempitnya lagi negative thinking.
Saya teringat pada suatu kisah yang pernah Sitok Srengenge ceritakan mengenai mimpi, doa serta harapan. Dalam bukunya ada sebuah kisah mengenai Gadis Kecil Penjaga Bintang yang dikisahkan oleh Wikan Satriati. Seorang gadis kecil meminta kepada ibunya untuk dijelaskan mengenai doa. sang bunda lantas menggandeng tangan sang gadis kecil ke tepi pantai untuk melihat perahu yang tengah melaju ke arah matahari terbenam. Sang ibu meminta sang gadis untuk memerhatikan perahu tersebut. Perahu yang sedang berjalan tersebut semakin lama terlihat semakin kecil dan kemudian semakin tidak terlihat dan akhirnya menghilang. Sang ibu lantas berkata “apakah kamu percaya, jika kukatakan bahwa perahu itu tidak lenyap?.” Gadis kecil mengangguk. Ia membayangkan ada sebuah pelabuhan besar tempat perahu-perahu tersebut berlabuh. Lantas bunda melanjutkan “begitulah yang terjadi pada doa (harapan juga mimpi), kamu bisa saja menganggap doa serta harapan yang dipanjatkan menguap sia-sia, namun sesungguhnya doa itu sampai pada tuhan.”[1]
Berbeda lagi dengan Seno Gumira Adjidarma. Mimpi dan realitas ia terjemahkan kedalam puisi yang begitu cantik, seakan saling tumpang tindih.
 
"Hidup akhirnya memang jalan terus. Namun, mimpi juga jalan terus. Ketika menatap jalanan, aku berpikir tentang soal-soal lain. Aku sering bermimpi tentang hidup. Aku hidup dengan mimpi-mimpi. Apakah hidup, apakah mimpi. Apakah tidur apakah mati. Kalau aku tidur tanpa mimpi,maka aku istirahat dari hidup dan mimpi. Kalau aku mati, aku juga istirahat dari hidup dan mimpi. Tidur seperti mati. Aku selalu ingin tidur seperti orang mati, karena aku capek hidup dan capek mimpi. Hidup ini seperti perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi aku belum mau mati."[2]
untuk saya sendiri bermimpi itu masih menjadi aktivitas paling mengasyikan. Terkadang saya menemukan tempat-tempat yang hanya bisa saya temui dalam mimpi. Otak saya memutar gambaran akan masa depan yang selalu saya buat indah dengan mata dan tangan yang saling gotong royong memasukan imajinasi-imajinasi baru yang sungguh melenakan. Berbicara realitas beda soal, Tentu saya masih menghargainya karena kedua hal tadi tidak bisa dipisahkan dan berdiri sendiri. Jujur realitas memang lebih sering saya ajak berdamai lantaran mimpi saya yang sering menclok kesana kemari. Dalam hal ini saya diajarkan untuk memaafkan diri saya sendiri, selanjutnya memulai lagi mimpi dan harapan baru dan dibangunkan dengan kenyataan lalu memaafkan diri lagi dan begitu seterusnya. Memang realitas sering digambarkan tidak mengenakan cenderung kejam namun saya tetap percaya cerita gadis kecil diatas. 





[1] Srengenge, Sitok. 2012. Cinta di Negeri Seribu Satu Tiran Kecil. Jakarta: Rajut Publising.
[2] Ajidarma, Seno Gumira. Atas Nama Malam, Kumpulan Cerpen.

Sunday, July 8, 2012

Jangan menilai

Jangan menilai, Jangan pernah sekalipun, bahkan dari hal-hal terkecil. Memang siapa berhak untuk menilai? Apakah tuhan? bukan kami manusia sama seperti yang lain. Kami manusia terbiasa menghakimi, Menilai sesuatu atau seseorang Mengamati sedalam-dalamnya lalu menempatkan penilaian tersebut sekenanya, Seenaknya. Bagi yang malas, Satu kali pengamatah digunakan untuk berbagai kasus.

Betapa ringanya hidup tanpa menilai diri sendiri, orang lain dan apapun itu. Lakukanlah apa yang ingin dilakukan tapi jangan memikirkanya terlalu dalam. Kerjakan apa yang bisa dikerjakaan saat ini. Terkadang manusia terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dikerjakan besok, Terlalu tenggelam terhadap apa yang telah dialaminya, Terlalu fokus terhadap apa yang telah dilakukanya sampai lupa apa yang harus dikerjakan saat ini. seperti saya saat ini, seharusnya saya tidur, malam sudah berganti pagi.


Friday, July 6, 2012

Pemenang


Ada banyak sekali perlombaan yang hadir disekitar saya. Jujur saya masih bingung standart yang dipakai untuk menyatakan sesuatu atau seseorang sebagai pemenang. Untuk sekarang ini rasanya bersaing antara individu adalah hal yang menjijikan. Indikator yang dimiliki harus diperlebar lagi. Sekarang bukan masalah siapa melawan siapa, aku dibandingkan dia, aku dibandingkan mereka , aku dibandingkan engkau. Kompetitor yang nyata saat ini bagi saya adalah diri saya sendiri. Ingin sekali saya melawan rasa ingin menang yang ada dalam diri saya jika melakukan suatu hal. Saya sering tidak ingat bahwa terkadang seseorang baik dalam melakukan suatu hal dan terkadang lemah dalam melakukan sesuatu lainya. Jangan pernah menghitung, jangan membandingkan.. hal itu tidak akan menunjukan nilai yang sebenarnya pada seseorang.
Mata manusia terbatas dalam melihat, saya sering terjebak dalam penglihatan saya yang terlalu sempit. Bagi yang menginginkan kemenangan, silahkan ambil. Bagi saya saat ini kemenangan adalah bagaimana merayakan kekalahan.

Sunday, June 24, 2012

Ujian Yang Menyenangkan

oke, menjelang hari-hari akhir saya dalam menempuh perjuangan ujian akhir sekolah (UAS), saya tertimpa musibah. pada hari jum'at saya bangun kesiangan, melihat ke arah jam dinding ternyata saya sudah telat satu jam, mengingat susahya mengurus administratif dikala tidak mengikuti  ujian akhir berangkatlah saya ke kampus. pada saat tiba, masuk kedalam ruangan ternyata sudah ada salah satu mahasiswa yang keluar ruangan. walhasil saya tidak bisa mengikuti ujian.

sebenarnya hari itu termasuk hari yang sangat saya tunggu-tunggu. hari tersebut merupakan akhir pekan dimana saya bisa berleha-leha memanjakan badan saya. beberapa rencana sudah saya atur sedemikian mungkin untuk merayakan liburan akhir pekan di kala ujian semester. beli peralatan dapur, nonton film, bangun siang, karaoke, melaksanakan kewajiban sosial terhadap teman-teman yang membutuhkan (baca: traktir) dan masih banyak lagi. 

liburan akhir pekan saya jadi diisi dengan pertimbangan-pertimbangan menghadap dosen atau tidak. jika menghadap, saya tidak punya bukti yang kuat karena itu kesalahan saya sendiri berbeda dengan sakit, jika tidak menghadap ada dua kemungkinan pertama aman karena rata-rata orang yang tidak mengikuti UAS tidak keluar nilainya. namun ada beberapa yang dapat E atau D nah itu yang bikin saya frustasi sedikit.

tentu saya mengutuk kejadian tersebut, kejadian kecil yang menurut saya efeknya sama sekali tidak seimbang. saya ini bisa digolongkan sebagai orang yang apatis terhadap sistem. saya bukan orang yang tidak pernah masuk, tapi saya juga bukan orang aktif yang punya banyak pengalaman bersama dosen. jujur kejadian ini membuat saya sedikit berdag dig dug ria. 
saya merasa kembali kejaman SMA dulu dimana saya terbiasa menlanggar sesuatu dan disidang oleh guru-guru saya yang sangat menyeramkan.

banyak orang saya tanyakan mengenai kejadian ini, baiknya seperti apa. semakin bertanya saya semakin bingung. walaupu pada akhrinya jika menghadap saya juga malas bila di kasih tugas pengganti yang waktunya mendekati liburan seperti ini, jadi saya harus seperti apa saya juga masih bingung sampai saya menulis postingan ini .

anyway, sepertinya saya sedang diberi ujian, tuhan memang bisa saja membuat seseorang bingung sebingungnya dengan godaan atau candan kecil. disatu sisi saya mengutuk kebodohan yang saya perbuat, disatu sisi saya tersenyum karena saya mendapat kebaikan dari kejadian ini. ujian yang menyenangkan. ujian akhir sekolah saya saat ini lain dari pada biasanya. pertimbangan yang saya lakukan bukan lah masalah belajar dari sumber yang mana, bukan masalah belajar atau tidak. masalahnya adalah kenapa saya tidak bangun sedikit lebih pagi pada saat itu hahahaha. masalahnya apakah saya akan terus mencaci diri saya atau bangun dan mencari sesuatu yang bisa saya perjuangkan. 

pada saat ini saya pada akhirnya mengerti bahwa yang saya dapatkan saat ini adalah apa yang saya tabur dihari kemarin. terkadang pada saat mendapat ujian manusia sering mengkaitkan apa yang didapatkan dengan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan, kata orang karma. yaa dan saya juga mengaku dikala itu saya sedikit jahat dengan diri saya dan tuhan saya. ujian membuat tidur saya tidak teratur, terlalu terfokus pada kondisi setelah uas yaitu bersenang-senang terkadang sya menjalankan ujian saya dengan asal-asal dan juga mencampakan kewajiban saya terhadap tuhan.

Berkali-kali diri saya ini mengalami perintilan -perintilan hidup yang kadang membuat sedikit repot namun ketika masalah datang ada beberapa tradisi yang saya rindukan..
tradisi yang pertama adalah tradisi melihat masalah yang saya alami berubah menjadi kisah manis yang didalamnya menyimpan banyak kebaikan
tradisi berikutnya adalah tradisi menertawakan diri saya sendiri dan melihat betapa payah diri saya dalam menghadapi masalah tersebut, ujung-ujungnya saya hanya tertawa, menertawakan diri saya.
Terakhir adalah tradisi yang selalu membuat saya rindu dan tidak jera dalam mengalaminya yaitu melihat orang-orang yang saya sayangi berjibaku untuk membuat keadaan lebih baik. 


teringat teman-teman saya yang datang ke kos saya di hari H, mereka membangunkan saya sambil membawakan saya makanan cimol. beberapa ada yang menawarkan hingga beratus kali untuk menenmani saya mengurus keterlambatan saya. beberapa ada yang rutin mengirimi saya sms untuk memantau bagaimana kelanjutan dari kejadian tersebut.
mamah saya selalu menjadi orang yang merasa bersalah ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. kakak kedua saya seakan berusaha membuat saya relaks, kakak pertama saya memberikan kata-kata ajaib untuk merajuk si dosen. 
dukungan terakhir dari ayah saya yang menyuruh saya untuk tidak memikirkan masalah ini, menurutnya ujian selanjutnya lebih penting dari kasus ini, tertinggal sks pun menurutnya bukan masalah.
ah saya jadi tidak enak sejujurnya, begitu banyak orang-orang baik yang berada di sekitar saya. kuliah menurut saya adalah kewajiban yang harus saya pertanggung jawabkan terhadap saya sendiri dan orang tua saya.

 tradisi yang terakhir memang sangat kuat efeknya, dukungan yang mereka berikan sama halnya seperti gula yang diminum ketika sesudah menyantap jamu pahit. 

untuk kondisi seperti ini saya sulit menyatakan bahwa "sejatinya manusia adalah bergantung pada diri sendiri", walaupun dalam beberapa kasus lain istilah tersebut masih berlaku. 
berapa kalipun saya mentraktir mereka, rasanya tidak akan pernah cukup untuk mengimbangi kebaikan mereka, tapi saya tahu mereka tidak mencari itu, tidak mencari apa-apa.